KONFERENSI TINGKAT TINGGI ASIA AFRIKA TAHUN 2015 DALAM RANGKA PERINGATAN KE-60 KONFERENSI ASIA-AFRIKA DAN PERINGATAN KE-10 NEW ASIAN-AFRICAN STRATEGIC PARTNERSHIP DI JAKARTA, 19-23 APRIL 2015 DAN BANDUNG, 24 APRIL 2015
April, 2015 Tim KAA

Konferensi Asia Afrika (KAA) atau dikenal juga dengan Konferensi Bandung lahir atas prakarsa lima negara, yaitu Indonesia, Myanmar, Sri Lanka, India dan Pakistan. Pertemuan ini pertama kali diadakan pada tanggal 18-24 April 1955 dengan mengambil tempat di Gedung Merdeka Bandung dan dihadiri oleh 29 negara.

                                

                                KAA Tahun 1955 di Gedung Merdeka Bandung

Tujuan dari penyelenggaran KAA adalah untuk meningkatkan solidaritas bangsa-bangsa Asia dan Afrika melalui peningkatan kerja sama ekonomi, kebudayaan, melawan segala bentuk penjajahan/imperialisme, rasialisme, mengedepankan hak-hak asasi manusia dan memajukan perdamaian dunia dan kerja sama internasional.

Pertemuan KAA 1955 menyepakati sepuluh poin yang kemudian dikenal dengan Dasasila Bandung yang merupakan suatu pernyataan politik berisi prinsip-prinsip dasar dalam upaya memajukan perdamaian dan kerja sama dunia. Hingga saat ini Dasasila Bandung tetap menjadi landasan yang solid, relevan dan efektif untuk menjadi acuan dalam melakukan hubungan di antara negara-negara Asia dan Afrika serta menjadi panduan dalam menyelesaikan masalah-masalah global yang menjadi kepentingan bersama.

Pada peringatan 50 Tahun Penyelenggaraan Konferensi Asia Afrika yang diselenggarakan Jakarta dan Bandung pada tanggal 22-23 April 2005, negara-negara Asia dan Afrika menghasilkan konsep yang dikenal dengan Kemitraan Strategis Baru Asia-Afrika (New Asian African Strategic Partnership/NAASP).

                                

                                KAA Tahun 2005 di Gedung Merdeka

Deklarasi NAASP tersebut merupakan manifestasi dari pembentukan “jembatan” intra-kawasan dengan komitmen kemitraan strategis baru antara Asia dan Afrika yang mencakup tiga pilar kerjasama, yaitu solidaritas politik, kerja sama ekonomi dan hubungan sosial budaya, yang di dalamnya mencakup mekanisme interaksi antar pemerintah, antarorganisasi regional/subregional serta antarmasyarakat (people-to-people contact).

Pada tanggal pada tanggal 12-13 Oktober 2009, telah diadakan pertemuan NAASP Senior Official Meetings (SOM) bertempat di Jakarta. Pertemuan tersebut menyepakati delapan bidang kerja sama, yaitu Counter Terrorism; Combating Trans-national Organized Crime; Food Security; Energy Security; Small and Medium Enterprises; Tourism; Asian African Development University Network; serta Gender Equality and Women Empowerment.

Sebagai wujud komitmen terhadap Dasasila Bandung dan NAASP serta menjunjung tinggi solidaritas bagi negara-negara yang tergabung dalam Konferensi Asia Afrika, Pemerintah Indonesia menyediakan dan memfasilitasi berbagai program pengembangan kapasitas (capacity building program) sumber daya manusia dan bantuan teknik lainnya. Dalam kerangka Kerja Sama Selatan-Selatan dan Triangular (KSST), hingga saat ini Pemerintah Indonesia telah melaksanakan berbagai pelatihan internasional yang melibatkan peserta dari negara-negara Asia Afrika di berbagai bidang yang menjadi kapasitas unggulan Indonesia dan disesuaikan dengan kebutuhan negara-negara penerima program pelatihan dimaksud, terutama di bidang pertanian dan peternakan, kelautan dan perikanan, multimedia, electronical engineering, perindustrian, serta keluarga berencana dan kesehatan reproduksi. Selain pelatihan, Indonesia juga menyelenggarakan program magang bagi petani Afrika di berbagai Balai Pertanian di Indonesia dan mengirimkan tenaga ahli bidang pertanian dan bantuan traktor tangan kepada negara-negara di kawasan Asia Afrika.

Informasi awal rencana pelaksanaan KTT Asia-Afrika Tahun 2015 dalam rangka Peringatan ke-60 KAA dan Peringatan ke-10 NAASP di Indonesia (selanjutnya disebut KAA Tahun 2015) didasarkan pada undangan lisan Presiden RI kepada Presiden RRT pada saat KTT APEC 2014 di Beijing, RRT. Selanjutnya, pihak Kementerian Luar Negeri dalam hal ini Direktorat Jenderal Asia Pasifik dan Afrika berkoordinasi dengan Sekretariat Kementerian Sekretariat Negara guna menetapkan langkah-langkah antisipasi rencana penyelenggaraan pertemuan dimaksud.

Penyelenggaraan KAA Tahun 2015 di Indonesia perlu untuk direalisasikan mengingat Indonesia adalah sebagai salah satu pelopor KAA dan inisiator pembentukan NAASP. Lebih lanjut, momentum bersejarah tersebut perlu dimaknai dengan penyelenggaraan kegiatan yang dapat mendorong kerja sama selatan-selatan dan meningkatkan solidaritas bangsa-bangsa Asia-Afrika serta sekaligus memajukan kepentingan nasional Indonesia di Kawasan Afrika.

Tema KAA Tahun 2015 yakni “Strengthening Asia Africa Strategic Partnership and South-South Cooperation to Promote Peace, Progress and Prosperity”. Penyelenggaraan direncanakan akan dihadiri oleh 109 negara Asia-Afrika, 16 negara luar kawasan sebagai peninjau dan 20 organisasi internasional dan regional.

Format acara akan dilaksanakan dalam bentuk Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) yang didahului dengan pelaksanaan Senior Official Meeting (SOM) dan Ministerial Meeting (MM). Lebih lanjut, disaat yang bersamaan diadakan pula side events dan kegiatan pendukung lainnya.

                                

                                Senior Official Meeting (SOM)

Hasil-hasil KTT Asia Afrika 2015

1)   Bandung Message 2015

Dokumen utama hasil KAA 2015 yang secara simbolis ditandatangani tiga kepala negara Asia Afrika, yaitu Presiden RI Joko Widodo sebagai tuan rumah penyelenggaraan Konferensi, Presiden Tiongkok Xi Jinping, dan Raja Swaziland Mswati II. Pemilihan Tiongkok dan Swaziland sebagai dua negara yang ikut menandatangani Bandung Message didasari pertimbangan untuk mewakili Asia dan Afrika. Tiongkok menjadi wakil Asia karena merupakan negara besar dan telah tumbuh menjadi negara dengan kekuatan ekonomi terbesar kedua di dunia. Sementara Swaziland menjadi wakil Afrika karena termasuk negara yang stabil secara politik dan ekonomi di benua tersebut.

                                

                                Penanda Tanganan Bandung Message 2015

Pesan Bandung atau lebih dikenal dengan Bandung Message adalah suatu dokumen utama hasil KAA yang berisi pesan visioner hasil rumusan dan disepakati para peserta KAA dengan tujuan memperkuat kerja sama yang baru secara nyata dan revitalisasi penguatan Kemitraan Asia Afrika dalam hal solidaritas politik, kerja sama ekonomi, dan hubungan sosial budaya sebagai tiga pilar utama.

Pesan Bandung terdiri dari 41 poin. Salah satu poin dalam Pesan Bandung menyebutkan negara-negara Asia Afrika berkomitmen untuk mendorong kerjasama di bidang kesetaraan gender dan emansipasi wanita, yang difokuskan untuk menyediakan akses pendidikan, kesehatan serta lapangan pekerjaan bagi mereka.

2)   The Strengthening of the New Asian-African Strategic Partnership (NAASP)

Pada peringatan 50 Tahun Penyelenggaraan Konferensi Asia Afrika yang diselenggarakan Jakarta dan Bandung pada tanggal 22-23 April 2005, negara-negara Asia dan Afrika menghasilkan konsep yang dikenal dengan Kemitraan Strategis Baru Asia-Afrika (New Asian African Strategic Partnership/NAASP).

                                

                                Asia African Summit tanggal 22-23 April 2015

Deklarasi NAASP tersebut merupakan manifestasi dari pembentukan “jembatan” intra-kawasan dengan komitmen kemitraan strategis baru antara Asia dan Afrika yang mencakup tiga pilar kerjasama, yaitu solidaritas politik, kerja sama ekonomi dan hubungan sosial budaya, yang di dalamnya mencakup mekanisme interaksi antar pemerintah, antarorganisasi regional/subregional serta antarmasyarakat (people-to-people contact).

Pada tanggal padatanggal 12-13 Oktober 2009, telah diadakan pertemuan NAASP Senior Official Meetings (SOM) bertempat di Jakarta. Pertemuan tersebut menyepakati delapan bidang kerja sama, yaitu Counter Terrorism; Combating Trans-national Organized Crime; Food Security; Energy Security; Small and Medium Enterprises; Tourism; Asian African Development University Network; serta Gender Equality and Women Empowerment.

Sebagai wujud komitmen terhadap Dasasila Bandung dan NAASP serta menjunjung tinggi solidaritas bagi negara-negara yang tergabung dalam Konferensi Asia Afrika, Pemerintah Indonesia menyediakan dan memfasilitasi berbagai program pengembangan kapasitas (capacity building program) sumber daya manusia dan bantuan teknik lainnya. Dalam kerangka Kerja Sama Selatan-Selatan dan Triangular (KSST), hingga saat ini Pemerintah Indonesia telah melaksanakan berbagai pelatihan internasional yang melibatkan peserta dari negara-negara Asia Afrika di berbagai bidang yang menjadi kapasitas unggulan Indonesia dan disesuaikan dengan kebutuhan negara-negara penerima program pelatihan dimaksud, terutama di bidang pertanian dan peternakan, kelautan dan perikanan, multimedia, electronical engineering, perindustrian, serta keluarga berencana dan kesehatan reproduksi. Selain pelatihan, Indonesia juga menyelenggarakan program magang bagi petani Afrika di berbagai Balai Pertanian di Indonesia dan mengirimkan tenaga ahli bidang pertanian dan bantuan traktor tangan kepada negara-negara di kawasan Asia Afrika.

Dokumen NAASP 2015 mengaskan penguatan solidaritas, persahabatan, kerja sama serta mengkaji ulang perkembangan kerja sama NAASP selama 10 tahun terakhir. Inti dari dokumen ini adalah kerja sama nyata pada upaya pemberantasan terorisme, membentuk jejaring pusat penjagaan perdamaian, mengecam aksi ekstremisme atas nama agama.

3)   The Declaration of Palestine

The Declaration on Palestine merupakan perwujudan dari konsistensi penuh para negara Asia Afrika dalam mendukung pendirian negara Palestina. Selain itu, deklarasi ini juga menunjukkan dukungan dari para negara Asia-Afrika atas hak-hak dasar warga Palestina.

                                

                                Pembacaan hasil Asia African Summit 2015 oleh Presiden Jokowi

Top